Rabu, 07 Januari 2009

Nama : Atiaturrahmaniah (081804098406)

Nim : 07712251004

Refleksi terhadap pertanyaan Syarifuddin

1. Apa hakekat matematika itu sebenarnya?

2. Menurut anda, mengapa matematika itu perlu diajarkan di sekolah?

1. Hakekat Matematika

Banyak pendefinisian tentang matematika: ada yang mendefinisikan bahwa matematika adalah ilmu pasti; ada yang menyatakan bahwa matematika merupakan bagian dari ilmu pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi; ada yang mendefinisikan matematika sebagai ilmu pengetahuan tentang penalaran logis dan masalah-masalah yang berhubungan dengan bilangan. Semua pendefinisian tentang matematika itu tidak salah karena masing-masing memiliki tinjauan dan latar belakang yang berbeda tentang matematika.

Menurut Antonious, obyek utama matematika adalah himpunan dan fungsi. Pada waktu disekolah dasar, siswa dikenalkan pada bilangan dan operasinya seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Secara tidak langsung siswa diajak untuk mengamati karakteristik sebuah himpinan, baik himpunan bilangan cacah maupun himpunan bilangan bulat. Sedangkan operasi-operasi yang diaplikasikan terhadap bilangan-bilangan tersebut merupakan fungsi yang diterapkan pada himpunan bilangan tersebut. Para siswa juga dikenalkan bangun-bangun geometri, baik bangun datar maupun bangun ruang. Disini siswa diajak untuk mengenali sifat dan karakteristik dari elemen-elemen pada himpunan bagun-bangun geometri, sedangkan transformasi geometri, seperti pencerminan, pergeseran dan perputaran merupakan fungsi yang dijalankan dalam himpunan bangun-bangun geometri tersebut.

Dari uraian diatas maka bisa dikatakan bahwa hakekat matematika berkenaan dengan struktur-struktur, hubungan-hubungan dan konsep-konsep abstrak yang dikembangkan menurut aturan yang logis. Dengan mamahami hakekat matematika maka seorang guru akan memiliki suatu wawasan, visi dan strategi yang tepat dalam mengajarkan konsep-konsep matematika pada siswanya. Mengingat hakekat yang berkenaan dengan ide-ide abstrak (misalnya tentang konsep bilangan), sementara tingkat perkembangan kognitif siswa SD pada umumnya masih berada pada tahap operasional konkrit, dimana mereka belajar memahami suatu konsep malalui manipulasi benda-benda konkrit, maka dalam menyajikan konse-konsep matematika seringkali guru harus menggunakan peraga-peraga dan ilustrasi konkrit dari konteks kehidupan nyata di sekitar siswa serta menggunakan teknik analogi, agar konsep abstrak tersebut menjadi lebih dipahami oleh siswa.

Sri Subarinah mengungkapkan bahwa matematika merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari struktur yang abstrak dan pola hubungan yang ada didalamnya. Hal tersebut berarti bahwa balajar matematiak pada hakekatnya adalah belajar konsep, struktur konsep dan mencari hubungan antar konsep dan strukturnya.

2. Mengapa Matematika Diajarkan di Sekolah?

Salah satu pertanyaan penting yang harus dijawab sebelum mengajarkan matematika di sekolah adalah mengapa matematika perlu diajarkan di sekolah? Untuk menjawab pertanyaan ini sejumlah pakar dalam pembelajaran matematika memberikan pendapat, pandangan, atau komentar sebagi berikut.

Jackson (1992 : 756) mengatakan bahwa secara umum matematika adalah “penting bagi kehidupan masyarakat.” Oleh karena itu, matematika dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Sejalan dengan pandangan ini, Dreeben (dalam Romberg, 1992: 756) mengungkapkan bahwa matematika diajarkan di sekolah dalam rangka memenuhi kebutuhan jangka panjang (long-term functional needs) bagi siswa dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa seseorang harus mempunyai kesempatan yang banyak untuk belajar matematika, kapan dan di mana saja sesuai dengan kebutuhan akan matematikanya sendiri.

Sebaliknya, kaum absolutis berpendapat bahwa algoritma matematika telah disusun sedemikian rupa dan dilengkapi dengan alat hitung yang canggih (seperti kalkulator dan komputer). Oleh karena itu, anak maupun masyarakat tidak perlu belajar banyak tentang matematika (Burke dalam Romberg, 1992: 757; Finn dalam Romberg, 1992: 757).

Sujono (1988: 15) mengajukan beberapa alasan mengapa matematika perlu diajarkan di sekolah. Pertama, matematika menyiapkan siswa menjadi pemikir dan penemu. Kedua, matematika menyiapkan siswa menjadi warga negara yang hemat, cermat, dan efisien. Selain itu, matematika membantu siswa untuk mengembangkan karakternya.

Sementara itu, Thorndike (dalam Jackson, 1992: 758) mengatakan bahwa matematika sangat penting diajarkan di sekolah karena matematika merupakan bagian penting dari batang tubuh pembelajaran itu sendiri.

Berbeda dengan pendapat tersebut di atas, Freudental (dalam Romberg, 1992: 758) mengatakan bahwa tujuan diajarkannya matematika di sekolah adalah untuk melengkapi apa yang telah dimiliki oleh para ahli matematika. Pemahaman yang lebih umum dikemukakan oleh Jacobs (dalam Jackson, 1992 : 758) dengan mengatakan bahwa matematika diajarkan di sekolah karena dia merupakan kegiatan atau aktivitas manusia.

Pandangan yang lebih khusus dikemukakan oleh Stanic (dalam Romberg, 1992: 759). Dia menegaskan bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan berfikir siswa. Selain itu, peningkatan sikap kreativitas dan kritis juga dapat dilatih melalui pembelajaran matematika yang sistematis dan sesuai dengan pola-pola pembelajarannya.

Dari beberapa uraian di atas dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika di sekolah, di satu sisi merupakan hal yang penting untuk menigkatkan kecerdasan peserta didik, kreativitas dan untuk mengembangkan karakter mereka. Namun, di sisi lain terdapat pakar yang menilai bahwa pembelajaran matematika di sekolah hanyalah merupakan kebutuhan yng bersifat pelengkap dari apa yang telah dikembangkan oleh para ilmuan dalam matematika.

Refrensi :

………..(2007). Pembelajaran Matematika dengan Teori Belajar Konstruktivisme. Diambil tanggal 15 Nopember 2008. (http://guru-beasiswa.blogspot.com/pembelajaran-matematika-dengan-teori.html.

Sri Subarinah. (2006). Inovasi pembelajaran matematika SD. Jakarta: Depdiknas.

Antoniuos Cahya Prihandoko. (2006). Memahami konsep matematika secara benar dan menyajikannya dengan menarik. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar